love

[FlashFiction] Masih Ada Angkot Yang Lewat


“Udah sore, pulang yuk!” Miranda mengajak Marta keluar dari gedung sekolah.
“Naik apa? Dijemput?” tanya gadis itu pada Miranda sembari membenarkan letak tasnya.
“Aku naik angkot aja. Ayo!” Langkah kaki kedua gadis itu menerbangkan debu dari tanah yang mereka injak.
“Ini udah ada tiga mobil angkot yang lewat, tapi kamu tetep nggak mau pulang?” Gadis itu tak habis pikir pada Miranda yang sedari tadi hanya duduk dan mengabaikan kendaraan umum yang telah melewati mereka.
Menjelang senja, kedua gadis itu masih saja berada di depan gedung sekolah yang saat ini sudah sepi.
“Nah!” Miranda segera beranjak dengan wajah berseri-seri mengajak Marta untuk masuk ke angkot.
Wajah Miranda berbinar, ia memilih untuk duduk di samping sang pengemudi. Gadis itu duduk dengan tenang disana. Sementara Marta hanya duduk di belakang dan sekilas melihat Miranda yang mencuri pandang pada seseorang di sampingnya. Pandangan gadis itu begitu lekat pada sosok lelaki yang memang tak asing lagi baginya. Selama ini Miranda memang sering menaiki angkot ini. Angkot dengan seorang supir yang sedari tadi dinantikannya.
“Ternyata,” ucap Marta tanpa bersuara hanya mulutnya yang bergerak. Gadis itu mengernyitkan dahi. Ia hanya mengangguk mengerti.

Antara -Ku & -Mu


Aku. Gadis itu.

Entah telah berapa ratus detik terbuang kala kedua indera penglihatanku memperhatikannya lekat. Ku bilang, ini bukan ‘terbuang’ , karena bagiku tak pernah sia-sia untuk memandanginya dari jarak beberapa meter saja. Ya, kami memang dekat. Namun tak sedekat itu. Ruangan berukuran…….. Berapa ya? Aku belum sempat menghitungnya dengan jemariku, yang jelas di ruangan inilah sehari-harinya kami dipertemukan.

“Besok ada tugas apa?” Kata-kata ini lazim mampir di telingaku dan kata-kata ini pula lah yang lazim meluncur dari mulutnya. Dia bertanya kepadaku, kala aku tengah terduduk di sebuah bangku dekat meja guru. Sejurus kemudian ku buka buku yang sepintas nampak seperti diary -atau memang sebuah diary yang ku alihfungsikan sebagai buku catatan tugas- Tanganku membuka lembar demi lembar, mencari halaman yang kucari. Kubaca perlahan tulisan yang ada di halaman tengah buku itu, dan kemudian memandang seseorang yang berdiri di sampingku.
“Udah kan? Itu tugasnya.” Aku tersenyum, menutup kembali buku itu dan mengembalikannya ke kolong meja.
“Banyak juga ya. Ya udah, makasih.” Lelaki itu berlalu meninggalkanku dan kembali ke bangkunya. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tak menoleh dan melihat laju pergerakannya. Meski begitu, tanpa disadari sarafku tertarik dan membuat sebuah ekspresi senyuman.

Aku memutuskan untuk merebahkan kakiku sejenak. Membiarkan tulang-tulang yang menopang badanku menyiapkan energi baru. Aku melihat ke sekeliling. Ya, lelaki itu tengah berada di sana. Di depan sebuah kelas yang tak berbeda dengan kelas lainnya di sekolah kami. Ia membolak-balikkan buku dan menulis sesuatu di selembar kertas. Hingga akhirnya seorang gadis menghampirinya, bertanya sesuatu yang sudah kutebak pasti urusan pelajaran. Mereka berbincang sejenak, hingga gadis itu menunjuk sebuah lemari buku yang ada di sampingku. Lelaki itu menoleh, dan tanpa kami sadari kedua pasang bola mata itu saling bertemu pandang. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain, kemudian aku tersenyum meski hanya seulas senyum yang tipis.

-o-

Dialah aku. Lelaki itu.

Entah ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Sorot matanya? Sifatnya? Aku bahkan tak tahu persis. Yang kutahu aku hanya suka sekali memandangnya. Iya, suka sekali.
Sudah berkali-kali pertanyaan ini kutanyakan dengan siapa saja yang kutemui di kelas ini. Namun entah mengapa aku hampir selalu menyempatkan diri untuk bertanya mengenai hal yang sangat sederhana ini.
Langkahku semakin dekat dengannya, dekat dengan seseorang yang tengah terduduk tenang di barisan depan. Aku telah berada di sampingnya sekarang, namun sepertinya ia tak menyadari kehadiranku disana. Aku mematung beberapa saat memperhatikan gadis itu sejenak. Ya, gadis ini yang menyita perhatianku beberapa waktu belakangan.
“Besok ada tugas apa?” Pertanyaan yang simpel namun cukup untuk membuat alasan agar dapat berinteraksi dengannya. Ia membuka buku catatan tugasnya, cukup lama untuk membuka lembar demi lembarnya sehingga aku dapat memandang lekat padanya meski hanya beberapa saat.
Ia membacakan deretan tugas yang tertera jelas dengan tulisan tangan yang menurutku menyenangkan untuk melihatnya. Kau tahu, sebenarnya aku telah bertanya tentang tugas-tugas ini pada temanku yang lain namun bukankah menarik dan menyenangkan dapat berinteraksi dengan orang yang kau yakini bahwa kau menyukainya? Ya. Itu yang kurasakan.
“Udah kan? Itu tugasnya.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum gadis itu yang aku tunggu-tunggu, entah mengapa awan mendungpun terlihat cerah karenanya. Yah, memang sedikit berlebihan. Tapi apa kau tahu, aku suka melihat senyumnya. Senyum yang selama ini kuperhatikan diam-diam.

Kali ini ia tengah berada di belakang, maksudku di bagian belakang kelas ini. Meski aku tengah mengerjakan tugas dan menghadap papan, namun aku tahu ia tengah merebahkan kedua kakinya di lantai.
Seorang temanku menghampiriku menanyakan tugas yang belum dikumpulkan.
“Kamu belum selesai, kan? Nanti kalau sudah semua ditaruh di atas lemari buku.” ucap gadis itu.
“Itu di atas lemari , yang ada tumpukan buku.” ucapnya sambil menunjuk ke arah belakang.
Gadis itu menunjuk ke sebuah lemari kayu, dimana terdapat seorang gadis yang tengah terduduk di samping benda itu. Aku mengangguk, memperhatikan tumpukan buku dan sesekali memperhatikan gadis yang tengah merebahkan kakinya. Hingga pada akhirnya kedua mata kami bertemu meski hanya untuk beberapa detik. Gadis itu mengalihkan pandangannya, begitu pula aku. Meski begitu, aku tetap mencuri pandang padanya, melihat senyum manis tipis yang tergambar di wajahnya yang saat ini tengah mengalihkan pandangannya dariku.
Senyum itu tipis, tipis sekali. Namun manis, manis sekali.

-o-
Ini adalah kisah antara -Ku dan -Mu, dimana kita saling mengira hanya satu pihak yang mengagumi satu sama lain. Saling mengira bahwa kita adalah itik buruk rupa yang hanya dapat memendam rasa. Mengira bahwa kita tak layak untuk dikagumi dan hanya menghabiskan waktu untuk mengagumi.
Entah bagaimana cerita ini akan berakhir. Aku yang memendam dan kamu pula yang menyembunyikan, hingga kita sama-sama tak tahu dan pada akhirnya hanya dapat tersenyum dan bertegur sapa dalam kepura-puraan. Kepura-puraan yang terbingkai indah dalam sebuah bingkai teman biasa, meski satu sama lain menginginkan ada sesuatu yang menghiasinya.
Ini adalah kisah -Ku dan -Mu. Iya, ini tentang AKU & KAMU.

 

Mencintai Langit


Bagaimana jika aku mencintai langit?
Entah aku tak tahu bagaimana cara memulainya. Dan sebenarnya bukan aku yang pertama kali mencintai langit. Kau tahu, cinta pertamaku adalah hujan.
Sebelum aku bicara tentang langit, aku akan sedikit membahas tentang hujan. Ya, aku benar-benar merasakan aku mencintainya saat aku menatap pilu pada hujan. Tak lama, hanya beberapa waktu lalu. Ketika hujan merenggut kebahagiaanku menjadi sebuah kesepian, menambah rasa gamangku menjadi sebuah fenomena yang biasa disebut galau. Tapi, saat itu pulalah aku mulai merindukan hujan. Merindukan dinginnya, merindukan bagaimana aku dapat merasa hangat di bawah hujan. Setidaknya perasaanku akan luruh terbawa arusnya. Arus air hujan yang pada akhirnya mengalir ke laut dan bertatapan langsung dengan sang langit.
Langit, sejak kapan aku memperhatikannya? Mungkin sejak seseorang mulai mendeklarasikan bahwa dirinya mencintai langit. Dari situlah aku juga mulai menilik keberadaannya.
“Awan telah merenggut langit dariku.” Ucapnya saat itu, seseorang yang mencintai langit. Aku memperhatikan langit yang tertutup awan. Langit biru yang sangat jernih itu terpaksa ditimpa oleh awan. Dimulai dari awan putih hingga awan yang kelabu.
Langit, seperti luasnya yang tak terhingga mungkin hatinya juga sangat luas. Jika kuibaratkan langit sebagai seonggok daging berjalan, ia akan menjadi manusia yang mempunyai hati sangat luas, berkepribadian tenang, dan yah ia layaknya langit yang menjadi atap raksasa di atas lantai bumi.
Aku senang melihat langit dengan warnanya yang biru–benar-benar biru– setidaknya itu menenangkanku apalagi sembari menghela nafas panjang. Sungguh, ini adalah bagian dari rasa syukur kepada-Nya.
 
“Seperti langit yang tak pernah protes meski sepanjang hari tertutup awan, seperti daun jatuh yang tak pernah membenci angin. Seperti itulah aku.”

Terbaik Untukmu -Tangga-


Aku sadar kalau kini
Kita sudah smakin menjauh
Sempat aku berpikir ini
Kau yg menginginkannya
Lepas dari pelukku
oh kini aku sadari
ini salahku
tak ingin ku terlambat dan sesali

reff: maafkanlah bila ku selalu
membuatmu marah dan benci padaku
ku lakukan itu semua
hanya tuk buatmu bahagia
mungkin ku cuma tak bisa pahami
bagaimana cara tunjukkan maksudku
aku cuma ingin jadi terbaik untukmu
Aku ingin kau tetap di sini bersamaku
Jangan Pergi
Berikan satu kesempatan
Untuk ku membuktikan
sesungguhnya cintaku

oh kini aku sadari
ini salahku
tak ingin ku terlambat dan sesali

reff: maafkanlah bila ku selalu
membuatmu marah dan benci padaku
ku lakukan itu semua
hanya tuk buatmu bahagia
mungkin ku cuma tak bisa pahami
bagaimana cara tunjukkan maksudku
aku cuma ingin jadi terbaik untukmu
Aku ingin kau tetap di sini bersamaku
Jangan Pergi
Berikan satu kesempatan
Untuk ku membuktikan
sesungguhnya cintaku