cerpen

Thumbstory, Cara Bercerita Via Jempol


A short story must have a single mood and every sentence must build towards it. – Edgar Allan Poe
Yep. Itu adalah ungkapan yang dapat ditemui ketika menginjakkan diri di website Thumbstory, sebuah aplikasi bagi kita yang suka bercerita dalam keadaan apapun. Sebuah aplikasi gubahan Gramedia Majalah. Seperti jargonnya yaitu Delivering Ideas, Thumbstory seakan memberi wadah yang pas bagi kita semua untuk berbagi ide dengan cara yang amat mudah.

SC20131019-221531

Thumbstory, mengajak kita untuk selalu berbagi cerita kapanpun dan dimanapun. Seperti namanya yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘Cerita Jempol’, aplikasi ini membuat kita menggubah cerita dengan jempol yang terus menari di atas tombol-tombol keypad, yang tentunya, tastenya akan berbeda dibandingkan dengan sentuhan jari yang menyentuh keyboard komputer. Bagi saya, aplikasi ini tak hanya sebagai wadah transfer ide namun juga untuk berbagi di khalayak. Tak seperti draf sms dan note hape yang selama ini menjadi tempat yang ampuh untuk berbagi cerita meski sayangnya tak untuk dibagi-bagi. Thumbstory buat saya, seperti latihan untuk menulis setiap waktu. Dengan begitu, orang dapat melihat tulisan saya dan menilai sejauh mana progress yang saya buat.

(lebih…)

Iklan

Cintaku Nyangkut Di Kantong Kresek


Desiran angin menggerak-gerakkan benda itu, butiran tetes air hujan satu persatu jatuh dari benda yang kami sebut kantong kresek yang sebenarnya adalah sebuah kantong plastik hitam. Benda itu sesekali melambai lambai kecil, tersangkut di sebuah kayu atap lantai satu semenjak 3 tahun lalu.
Seorang gadis tampak tengah memperhatikan benda itu. Benda tak berarti yang memberinya sebuah kenangan. Kenangan yang nyatanya hanya bisa dikenang.
Terdengar suara berisik dari lantai dua. Beberapa gadis berseragam putih biru tampak tersenyum girang dan sesekali mengintip ke lantai dasar. Gadis-gadis puber itu meneriaki salah seorang kawannya, gadis berkerudung dengan wajah yang manis. Menunjuk-nunjuk ke arah bawah kala melihat seorang lelaki yang ternyata kakak kelas mereka.
“Rizka, itu kak Angga!” gadis-gadis itu berteriak histeris. Memperhatikan lelaki yang ditemani seorang pria di lantai satu.
Tak berbeda dengan gadis seusia mereka yang selalu histeris kala melihat seorang pria yang tengah disukai sahabatnya. Kumpulan gadis yang selalu berteriak ‘ciee’ yang nyatanya dapat bermakna ganda. Karena tak sedikit yang hanya dapat menyimpan perasaannya pada orang yang sama. Menyimpan perasaan rapat-rapat hingga tak seorangpun tahu bahwa ada sepasang bola mata lain yang diam-diam memperhatikan lelaki itu dengan seksama.
Sebuah peristiwa yang akan menjadi kenangan itu akhirnya dibuat. Entah darimana asalnya, seutas tali meluncur dari lantai dua, tak salah lagi itu adalah ulah para gadis yang baru lulus SD enam bulan lalu. Ekpresi riang memancar dari gadis-gadis itu. Bermain-main dengan kakak kelas yang 2 tahun lebih tua dari mereka, rasanya aneh namun menyenangkan.
Tarik ulur akhirnya dimulai, seperti halnya Maria yang mengirim roti untuk Fahri dengan tali dalam film Ayat-Ayat Cinta. Sebuah kantong plastik hitam terikat di ujung tali, seakan pengganti keranjang anyaman dalam kisah ini.
Para gadis itu menunggu apa saja yang akan dikirimkan dari lantai bawah. Sesekali mereka berlari ke sudut lain di lantai dua demi melihat seseorang yang ada di bawah. Tengah tersenyum geli melihat adik kelasnya bahkan tingkahnya sendiri. Seorang dari teman lelaki itu membawa bunga plastik yang mungkin milik sebuah vas kecil penghias meja guru. Menyenggol-nyenggol lelaki itu, mendesaknya untuk mengirimkan sebuah bunga mawar plastik pada adik kelasnya yang tengah menunggu di lantai dua. Beberapa kali tarik ulur ini terjadi, hingga tak disangka kantong plastik hitam yang disebut kresek itu menyangkut di atap lantai satu. Gadis-gadis itu mencoba menariknya dengan paksa, hingga yang tersisa hanya seutas tali tanpa kantong kresek pengganti keranjang itu.
Kantong plastik itu akhirnya tertahan. Menjadi saksi bisu telah ada sebuah kisah menarik dalam sebuah cinta monyet. Terbitnya rasa suka dari seorang remaja putih biru yang melibatkan sahabat dan orang-orang terdekatnya. Kisah lucu yang takkan terulang. Meski pada akhirnya hanya untuk dikenang.
Hujan mengguyur semenjak siang, kini hanya tinggal gerimisnya saja yang terasa sendu. Seorang gadis berdiri mematung di depan sebuah kelas dimana benda hitam masih mengayun pelan karena desiran angin. Masih memperhatikan kantong kresek hitam yang masih bertahan meski hujan dan terik sepanjang tahun. Kantong itu masih bertahan, tapi tidak dengan perasaannya kini.
Gadis itu berseragam putih abu-abu. Satu tingkat lebih tinggi dari kedudukannya dulu sebagai remaja SMP. Lelaki yang dulu pernah bermain-main dengannya. Kini serasa menjadi orang asing yang perlu berkenalan ketika bertemu lagi. Hanya saling pandang bila berpapasan. Pandangan biasa tanpa arti. Kisahnya sama sekali tak ada artinya. Gadis itu sadar, dalam 86400 detik yang ditempuh lelaki itu setiap harinya, ia tak pernah menyisakan 2 detikpun waktu hanya untuk mengeja nama miliknya. Nama milik gadis itu. Riz-ka.