Pieces of Words

#CeritaDariKamar : Bukan Almari, Tapi Kolongnya


Gambar

Almari, lemari atau istilah lain untuk menyebut benda penyimpan barang-barang itu. Tak ada yg spesial dari almari tidurku. Kecuali disana ada boneka susan yang berkali-kali buatku paranoid.
Ruang kecil di bawahnya, tempat debu dan gelap bergumul jadi satu. Dimana ijuk harus bersusah payah untuk mengantar debu-debu itu keluar dari sarangnya. Ya, ruang itu bernama kolong.
Seperti kisah-kisah mengenai kolong ranjang yang menakutkan, kolong meja tempat sembunyi yang bisa buat gatal seperti di iklan lotion nyamuk, atau cerita memilukan dari kolong langit.
Kolongku, kolong almari juga punya cerita. Hanya saja ia tak semenakutkan apa yang kau kira di kepalamu saat ini.
Kolong almariku, yang sesekali ditemukan selimut atau sajadah yang meluncur dari kasur.
Tak jarang juga mukena ikut menyusup, sejenak menginap di bawah naungan sang almari yang perkasa.
Kolong almariku, yang sesekali bila kakiku masuk ke sana rasanya seperti takut tak akan kembali. Takut ada tangan lain yang mencengkeram dari balik sana.
Kolong almariku, tetap saja berdebu.
Kolong almariku, tetaplah gelap.
Kolong almariku, tetaplah hanya sebuah ruang.
Ruang kecil di sudut kamarku.
Ruang terabaikan.
Itulah kolong almariku.

Gambar

Iklan

Mencintai Langit


Bagaimana jika aku mencintai langit?
Entah aku tak tahu bagaimana cara memulainya. Dan sebenarnya bukan aku yang pertama kali mencintai langit. Kau tahu, cinta pertamaku adalah hujan.
Sebelum aku bicara tentang langit, aku akan sedikit membahas tentang hujan. Ya, aku benar-benar merasakan aku mencintainya saat aku menatap pilu pada hujan. Tak lama, hanya beberapa waktu lalu. Ketika hujan merenggut kebahagiaanku menjadi sebuah kesepian, menambah rasa gamangku menjadi sebuah fenomena yang biasa disebut galau. Tapi, saat itu pulalah aku mulai merindukan hujan. Merindukan dinginnya, merindukan bagaimana aku dapat merasa hangat di bawah hujan. Setidaknya perasaanku akan luruh terbawa arusnya. Arus air hujan yang pada akhirnya mengalir ke laut dan bertatapan langsung dengan sang langit.
Langit, sejak kapan aku memperhatikannya? Mungkin sejak seseorang mulai mendeklarasikan bahwa dirinya mencintai langit. Dari situlah aku juga mulai menilik keberadaannya.
“Awan telah merenggut langit dariku.” Ucapnya saat itu, seseorang yang mencintai langit. Aku memperhatikan langit yang tertutup awan. Langit biru yang sangat jernih itu terpaksa ditimpa oleh awan. Dimulai dari awan putih hingga awan yang kelabu.
Langit, seperti luasnya yang tak terhingga mungkin hatinya juga sangat luas. Jika kuibaratkan langit sebagai seonggok daging berjalan, ia akan menjadi manusia yang mempunyai hati sangat luas, berkepribadian tenang, dan yah ia layaknya langit yang menjadi atap raksasa di atas lantai bumi.
Aku senang melihat langit dengan warnanya yang biru–benar-benar biru– setidaknya itu menenangkanku apalagi sembari menghela nafas panjang. Sungguh, ini adalah bagian dari rasa syukur kepada-Nya.
 
“Seperti langit yang tak pernah protes meski sepanjang hari tertutup awan, seperti daun jatuh yang tak pernah membenci angin. Seperti itulah aku.”

I’ll miss you, the old you..


Untuk seseorang yang sebenarnya dicintai banyak orang.

Aku merindukan ketika kau dengan mudahnya membalas ocehanku. Pertama kali kubuat jejaring sosial itu aku tak pernah berpikir bahwa sedikit banyak aku telah menyelami kehidupanmu-setidaknya itu yang aku tahu-

Beberapa waktu yang lalu aku hampir saja menghujatmu, ketika kau tak mau lagi berinteraksi dengan mereka. Tak bisa seramah dahulu. Dan sepertinya tak pernah menganggapku ada.

Tapi kurasa kau punya alasan untuk itu.

Ya, dipandang sebelah mata. Kau terlalu depresi untuk itu, tak percaya bahwa kami benar-benar tulus mencintaimu. Kau berterimakasih pada kekasihmu yang katamu selalu ada di sampingmu-kekasih yang hampir membuat beberapa dari kami shock dan cemburu- .

Kau tak percaya bahwa kami benar-benar ada.

Sudah sering aku memberimu kata-kata itu. Tapi sepertinya tak cukup untuk membuatmu terbangun lagi.

Percayalah, kami benar-benar merindukanmu. Kami akan selalu ada untukmu. Kami ada , WE DO EXIST .

Kami adalah segerombolan orang yang benar-benar ingin melihatmu bahagia.

Jujur saja, hatiku selalu bergejolak ketika mereka menyandingkan pasanganmu dengan yang lain. Kau sepertinya terpukul dengan itu.

Memang banyak orang yang seakan meragukan kemampuanmu, pernah suatu waktu aku marah ketika banyak orang menyalahkan kekalahan kalian kepadamu. Mereka selalu menganggap maklum kesalahan pasanganmu itu.

Pada intinya aku ingin kalian berdua, kami ingin kalian berdua. Berada di peringkat yang lumayan dan mendapat pundi pundi seperti saat ini membutuhkan proses. Kalian sampai disini bersama-sama. Aku takkan membiarkan salah satu dari kalian terjatuh dan tersungkur. Dan apabila semuanya memang harus diperbaiki aku akan terus bersamamu, entah bagaimana caranya, entah bagaimana kuatnya dirimu menahanku dan tak percaya kepadaku.

Untuk saat ini aku tak mau menuntut lebih darimu, kukira jika aku berada di posisimu aku pasti akan kewalahan dan itu pasti akan sangat sulit.

Yang harus kau yakini sekarang adalah WE DO EXIST. Kita benar-benar ada dan ini bukan sekedar main-main.

Ku ingin kau tahu aku ada…