Thumbstory, Cara Bercerita Via Jempol


A short story must have a single mood and every sentence must build towards it. – Edgar Allan Poe
Yep. Itu adalah ungkapan yang dapat ditemui ketika menginjakkan diri di website Thumbstory, sebuah aplikasi bagi kita yang suka bercerita dalam keadaan apapun. Sebuah aplikasi gubahan Gramedia Majalah. Seperti jargonnya yaitu Delivering Ideas, Thumbstory seakan memberi wadah yang pas bagi kita semua untuk berbagi ide dengan cara yang amat mudah.

SC20131019-221531

Thumbstory, mengajak kita untuk selalu berbagi cerita kapanpun dan dimanapun. Seperti namanya yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘Cerita Jempol’, aplikasi ini membuat kita menggubah cerita dengan jempol yang terus menari di atas tombol-tombol keypad, yang tentunya, tastenya akan berbeda dibandingkan dengan sentuhan jari yang menyentuh keyboard komputer. Bagi saya, aplikasi ini tak hanya sebagai wadah transfer ide namun juga untuk berbagi di khalayak. Tak seperti draf sms dan note hape yang selama ini menjadi tempat yang ampuh untuk berbagi cerita meski sayangnya tak untuk dibagi-bagi. Thumbstory buat saya, seperti latihan untuk menulis setiap waktu. Dengan begitu, orang dapat melihat tulisan saya dan menilai sejauh mana progress yang saya buat.

Saya baru mengunduh aplikasi brilian ini pada Agustus 2013 lalu di PlayStore dan hingga kini saya sudah melahirkan 10 kisah. Saya ingin bercerita sedikit kala pertama kali berkenalan dengan Thumbstory, jujur saja pertama kali tidak tahu bagaimana menggunakan aplikasi ini. Karena lingkungan juga kurang mendukung, akhirnya aplikasi ini saya tinggalkan di hape dan tak pernah tersentuh. Hingga akhirnya secara kebetulan, saya membuka sebuah judul cerita dan menggeser layarnya ke kiri. Dan, voila! Terbukalah, tulisannya! Duh, pada saat itu saya benar-benar merasa ndeso.
Di aplikasi ini, kita juga menemui cerpen-cerpen karya penulis muda yang berbagi karyanya lewat Thumbstory. Salah satunya adalah Benzbara, penulis novel Cinta. dan Milana yang sudah melahirkan karya yang apik lewat Thumbstory. Aplikasi ini adalah sosial media bagi kami penyuka cerpen dan kisah-kisah pendek. Bagi kalian yang suka musik mungkin bisa mencoba soundcloud dan bagi yang suka berbagi status tentu saja twitter atau facebook menjadi andalan. Tapi bagi saya, aplikasi ini tetaplah yang favorit.
Mengenai pendapat saya mengenai aplikasi ini, saya sangat suka! Mengingat saya masih belajar dalam urusan tulis menulis dan sangat bergantung pada mood untuk membuat tulisan, maka Thumbstory adalah solusi yang tepat. Dan jujur saja, saya merasakan satu hal saat membaca ulang tulisan saya di Thumbstory. Cerita saya lebih punya rasa daripada tulisan-tulisan lain di layar komputer yang butuh penundaan cukup lama kala pertama kali saya punya ide. Kisah-kisah saya di Thumbstory, saya anggap sebagai kue yang baru matang dari panggangan. Ibaratnya, bahan dasar dan resepnya pun masih gres. Sehingga hasilnya renyah dan masih hangat.
Meski begitu, saya tak ingin terus-terusan menulis berdasarkan mood yang datang tak tentu. Saya akan terus belajar, hingga pada saat menulis saya dapat menciptakan mood itu sendiri. Sehingga saya dapat tumbuh menjadi seorang tukang ketik profesional.
Terimakasih, Thumbstory! Terima kasih telah membuat jempol saya lebih atraktif dan produktif berkarya!
Tampilan tulisan saya di Thumbstory

Tampilan tulisan saya di Thumbstory

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s