Surat Cinta Untuk Film Indonesia


Gambar

Aku akan memulai surat ini seperti surat pada umumnya. Ya, menggunakan kalimat pembuka yang lazim digunakan ketika berkirim surat dengan sahabat pena atau orang tua yang ditinggal merantau anaknya. Dan seperti inilah aku akan memulainya.

Teruntuk Film Indonesia ku tersayang,

Hai, apa kabar film Indonesia? Apa kabarmu baik-baik saja? Aku harap begitu. Karena bila aku harus mengutarakan hal yang baik disini, maka aku akan berkata bahwa aku baik-baik saja. Namun sesungguhnya aku tidak baik-baik saja.

Kau tahu mengapa aku sedang tidak baik-baik saja? Aku memikirkanmu,film Indonesia. Terlebih lagi saat dulu, ketika banyak versi dirimu yang mengaku bertema horror tetapi malah berisikan ceceran buah dada. Hmm, apa kau pikir aku terlalu frontal disini? Kurasa tidak.

Seiring dengan perkembanganmu kini yang semakin baik, keadaanku sekarang juga berangsur-angsur pulih. Aku lihat versi-versi dirimu yang menyita perhatian publik, seperti Laskar Pelangi dan 5cm yang memiliki nilai filosofis dan The Raid yang menyajikan suguhan aksi layaknya Hollywood. Sungguh, kau membuat grafik yang positif!

Oh ya, aku tahu kata orang kau pernah mati suri. Tapi kurasa tidak, perfilman Indonesia tak pernah mati bukan? Kau hanya hibernasi. Mungkin begitu.

Entah apapun itu sebutannya, namun kau harus tetap hidup. Bila banyak orang bunuh diri karena tak punya alasan untuk hidup. Maka aku akan memberikan alasan mengapa kau –perfilman Indonesia- tak harus mati.

Aku lapar. Aku harus makan. Seperti itulah peranmu terhadap Indonesia. Kau adalah film Indonesia, bukan film Hollywood. Maka, kau tahu pasti apa yang Indonesia butuhkan. Aku ambil contoh, sebuah novel lokal yang diangkat menjadi sebuah layar lebar. Bila bukan film Indonesia, siapa lagi yang akan mengangkat cerita berkualitas dari buku tebal itu? Siapa yang akan memuaskan dahaga penikmat film yang ingin menikmati buku bagus yang dibacanya menjadi sebuah visualisasi gambar? Hanya kau yang melakukannya. Ya, kau. Film Indonesia.

Karena kau film Indonesia maka kau tahu apa yang Indonesia butuhkan. Sesederhana itu.

Selain itu, tentu saja kau memberikan banyak lapangan kerja. Yah, aku tak perlu menuturkannya karena kurasa kau lebih tahu tentang itu.

Yang jelas, sudah berapa banyak orang yang berani bermimpi setelah menyaksikanmu? Berapa banyak orang yang terinspirasi –setidaknya bertahan hingga sepuluh menit sejak keluar dari bioskop-  setelah menghabiskan sekitar dua jam melihat ke lebarnya layarmu? Berapa banyak orang yang rela antre untuk mendapat sehelai dari guntingan kertas itu hanya untuk melihatmu lebih dulu –sebelum ditayangkan di televisi- ? Kau lebih bisa menjawabnya.

Dan, Ah! Satu lagi alasan untukmu agar tetap hidup. Bila kau mati, kemana penonton akan memberikan testimoni via twitter dan berharap mendapat balasan dari sang aktor? Untuk mendapatkannya dari Sylvester Stallone, Robert Pattinson atau Emma Watson rasanya tidak mungkin. Dan terlebih lagi, mereka tak dapat membaca tulisan berbasis sistem nomer plat kendaraan yang kadang digunakan oleh sebagian dari kita.

Maka, kau harus tetap hidup. Film Indonesia, kau tak perlu mati.

Aku punya permintaan untukmu, aku bermimpi ingin melihatmu dalam wujud kolosal. Banyak cerita tanah Jawa yang sangat layak untuk diangkat menjadi salah satu darimu. Cerita pewayangan yang melibatkan banyak prajurit, serta cerita dramatis dan peperangan. Semoga kau dapat mewujudkannya segera. Karena aku tahu, kau bisa. Pasti bisa. Sangat bisa.

Terakhir. Nggak ada film Indonesia, nggak seru!

Salam sayang,

Penikmatmu sekaligus penulis surat ini.

Seperti inilah suratku untuk film Indonesia. Ia memang bukan sahabat karibku seperti buku-buku yang menyetia di rak kayuku. Ia bukan makanan yang selalu kumakan setiap hari. Bukan pula alas kaki yang menemaniku tiap waktu. Tapi aku butuh dia. Karena ia yang dengan lancangnya mengisi liburanku, melepas penatku, dan seakan memijat-mijat ragaku.

Karena aku butuh dia. Aku butuh film Indonesia. Indonesia butuh film-nya sendiri. Indonesia butuh sesuatu untuk menunjukkan jati dirinya. Maka ia harus tetap hidup. Dengan segala kreasi anak negeri saat ini, film Indonesia akan terus melanjutkan nafasnya. Lebih kuat dari hari ke hari. Lebih melaju dari waktu ke waktu.

Sekali lagi. Indonesia butuh filmnya sendiri. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s