[Flash Fiction] Harapan Diam-Diam


Gambar

koleksi pribadi


“Bar, Rena nggak ada yang nganter tuh. Boncengin, gih,”

“Aku baru mau bonceng Fitra,”Bara menatapku yang telah berada di jok belakang motor ninja miliknya.

“Fit, kamu aku bonceng deh. Biarin tuh si Rena sama Bara berdua. Ya?”

“Eh? Iya,” aku turun dari motor Bara, menatap lelaki itu yang mulai kebingungan.

“Fit, nggak usah turun,”

“Udah gak apa, itu Rena nungguin. Bye, Bara!” aku berlalu. Dari kejauhan terlihat Rena yang mendekat ke arah Bara. Entah mengapa langkahku menjadi berat seketika, ada rasa sesak yang memenuhi dada. Tuhan, bagaimana ini? Kenapa rasanya sakit sekali?

Hai, lelaki penebar harapan. Aku tidak tahu apakah hatiku ini adalah ladang yang subur bagimu untuk menebar benih-benih harapan. Aku juga tak tahu sebesar apa harapan yang kau coba tumbuh kembangkan terhadapku. Tapi yang jelas sebagai petani harapan kau cukup berhasil di ladangku. Ya, sampai-sampai aku candu terhadapmu.

“Fit!”

“Eh, Bara?” Bara mengagetkanku kala ia menepuk punggungku barusan.

Kami berbincang sejenak, hingga ia bertanya tentang hal yang sama sekali tak ingin ku jawab.

“Fit, kenapa orang-orang jodohin aku sama Rena?”

Aku terdiam. Rasa sesak itu datang lagi.

“Entahlah, tapi kalian cocok. Kamu ganteng, dia cantik. Ya, kan?”

Aku menanti respon yang meluncur darinya. Dari lelaki yang kuperhatikan diam-diam. Yang tak kuketahui bagaimana awal mula aku mulai menaruh rasa padanya.

“Asal kamu tahu, ya. Kalau aku suka sama cewek aku bakal deketin dia. Jadi apa kamu pernah lihat aku deketin Rena?”

Spontan kepalaku menggeleng. Harus kuakui, aku tak pernah melihat Bara berusaha mendekati Rena.

Bara tersenyum menatapku. “Deketnya kayak gini, nih,” lelaki itu menggeser posisi duduknya mendekat beberapa senti kepadaku. Aku tersipu. Tuhan, betapa bahagianya aku.

“Ini nomernya Bara,kan?” Rena menunjukkan layar hapenya kepadaku.

 Aku mengangguk cepat, aku sudah hafal betul nomer hape Bara.

“Dia sms kamu?”

“Iya,orangnya asyik juga ya,”

Untuk kesekian kalinya, belati itu menghujam tepat di dadaku. Ternyata lidah tak bertulang itu dapat melukaiku sebegini menyakitkan.

“Cie,” hanya kata ambigu itu yang dapat kukatakan.

“Rena deket nggak sih sama kamu?”

“Lumayan, kenapa?”

“Nggak apa-apa. Eh bantuin tugas seni rupaku dong, gambarin bunga mawarnya.”

“Iya deh,” aku meraih tempat pensil kayu di tas ransel milikku.

“Terima kasih telah terlahir di dunia. Cie, buat siapa tuh?” Bara membaca tulisan yang tertempel di kotak pensilku. Aku memang suka menulis sesuatu disana. Entahlah, aku tak ingin membiarkan ada spasi kosong yang lebar di sana.

“Buat siapa aja yang baca.” Aku tersenyum.

Bar, tidakkah kamu tahu bahwa itu untukmu?

Aku berjalan di pusat perbelanjaan. Sekadar untuk mencuci mata. Namun di tengah perjalananku aku menangkap dua insan berada di sana. Dua insan yang kukenal. Ya, Bara dan Rena. Aku terpaku di posisiku. Hatiku sesak hingga aku putuskan untuk berjalan cepat melewati mereka berdua. Aku tak peduli apakah mereka mengetahui keberadaanku.

Di taman ini aku terduduk. Dengan sehelai gambar mawar merah yang baru saja kuselesaikan. Aku robek sebuah kertas dan kutuliskan perasaanku di atas sana.

“Dear you, setiap goresanku di gambar ini adalah sebuah ketulusan. Tapi kenapa selalu pengabaian yang didapat dari sebuah ketulusan?”

Dari kejauhan kulihat dua sosok itu mendekat. Entah dari mana mereka dapat mencium keberadaanku di sini. Bergegas aku pergi dari sana.

“Duduk dulu, yuk, capek,” Rena mengajak Bara duduk di kursi taman.

“Loh, ini ada kertas? Punya kamu, Bar?” Bara mencoba mengenali benda itu. Kertas gambar bertuliskan namanya yang dikerjakan oleh Fitra.

Lelaki itu meraihnya. Matanya terbelalak ketika menemukan sebuah pesan yang tertinggal disana.

Fit, do you really love me?” ucap Bara setengah berbisik.

“Bar, kayaknya kamu harus ngomong deh sama dia,” Rena menepuk pundak Bara.

Sementara di tangan Bara sudah ada boneka larva merah, kartun kesukaan Fitra. Boneka mirip guling dengan sebuah pesan di dalamnya.

“Fitra, kamulah gadis itu. Aku suka kamu.”

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s