Semangat Baru! 2015


Saya adalah orang yang labil, yang suka sekali menjadi orang lain, maksudnya ingin memperoleh kesuksesan secara instan. Alhasil, tiap lihat blog yang bagus jadinya pengen ikut-ikutan, pengen punya domainlah, tapi nggak ada realisasi. Ah, saya ini omdo banget, ya.

Karena kelabilan saya yang suka lihat rumput tetangga lebih hijau, saya goyah nih punya dua blog. Pokoknya, pengennya punya blog yang visitornya banyak terus eksis. haha.

Tapi, saya nggak boleh seperti itu terus. Saya harus konsisten dan punya karakter. Nah, maka itu di 2015 ini saya kan menghidupkan 2 blog saya sekaligus. Si Aksaracerita sama Untold Manuscript ini. Jadi, ceritanya yang si Aksara ini isinya agak-agak melankolis, sementara di sini semoga saja saya sering dan nggak malas mereview atau meresensi buku. Doakan saya! Semoga saya sudah tidak labil lagi! Semangat!!!
15blog

Iklan

Review Abal Buku Penjaja Cerita Cinta


penjaja cerita cintak
Judul         : Penjaja Cerita Cinta
Penulis       : @edi_akhiles
Penerbit     : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1  : Desember 2013
Tebal         : 192 halaman

Membaca kumpulan cerita karya bapak besar Edi Akhiles ini seperti sedang menaiki rollercoaster. Dari satu cerita ke cerita lain memiliki ritme yang naik turun dalam segi gaya bahasa dan diksi. Penasaran? Simak review singkat bin abal-abal dari saya 😀

Di cerita pertama kita sudah disambut oleh cerpen yang menjadi nama buku ini, Penjaja Cerita Cinta. Seperti pak bos biasanya, deskripsi latar memang sudah tak diragukan lagi, diksi juga cukup beragam sehingga membuat pembaca larut dalam atmosfer yg dibuat penulis. Namun di tengah-tengah saya merasa agak jenuh dan mencoba mencari tahu berapa halaman tersisa untuk menamatkan kisah ini. Sekiranya, ada bagian cerita yang dapat dipersingkat sehingga rasa penasaran pembaca bisa terus ada hingga akhir cerita. Tapi terlepas dari itu, saya dapat menikmati lagi ending dari kisah ini. Sebuah cerpen ‘serius’ yang menjadi pembuka dari buku ini.

(lebih…)

Thumbstory, Cara Bercerita Via Jempol


A short story must have a single mood and every sentence must build towards it. – Edgar Allan Poe
Yep. Itu adalah ungkapan yang dapat ditemui ketika menginjakkan diri di website Thumbstory, sebuah aplikasi bagi kita yang suka bercerita dalam keadaan apapun. Sebuah aplikasi gubahan Gramedia Majalah. Seperti jargonnya yaitu Delivering Ideas, Thumbstory seakan memberi wadah yang pas bagi kita semua untuk berbagi ide dengan cara yang amat mudah.

SC20131019-221531

Thumbstory, mengajak kita untuk selalu berbagi cerita kapanpun dan dimanapun. Seperti namanya yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘Cerita Jempol’, aplikasi ini membuat kita menggubah cerita dengan jempol yang terus menari di atas tombol-tombol keypad, yang tentunya, tastenya akan berbeda dibandingkan dengan sentuhan jari yang menyentuh keyboard komputer. Bagi saya, aplikasi ini tak hanya sebagai wadah transfer ide namun juga untuk berbagi di khalayak. Tak seperti draf sms dan note hape yang selama ini menjadi tempat yang ampuh untuk berbagi cerita meski sayangnya tak untuk dibagi-bagi. Thumbstory buat saya, seperti latihan untuk menulis setiap waktu. Dengan begitu, orang dapat melihat tulisan saya dan menilai sejauh mana progress yang saya buat.

(lebih…)

#CeritaDariKamar : Bukan Almari, Tapi Kolongnya


Gambar

Almari, lemari atau istilah lain untuk menyebut benda penyimpan barang-barang itu. Tak ada yg spesial dari almari tidurku. Kecuali disana ada boneka susan yang berkali-kali buatku paranoid.
Ruang kecil di bawahnya, tempat debu dan gelap bergumul jadi satu. Dimana ijuk harus bersusah payah untuk mengantar debu-debu itu keluar dari sarangnya. Ya, ruang itu bernama kolong.
Seperti kisah-kisah mengenai kolong ranjang yang menakutkan, kolong meja tempat sembunyi yang bisa buat gatal seperti di iklan lotion nyamuk, atau cerita memilukan dari kolong langit.
Kolongku, kolong almari juga punya cerita. Hanya saja ia tak semenakutkan apa yang kau kira di kepalamu saat ini.
Kolong almariku, yang sesekali ditemukan selimut atau sajadah yang meluncur dari kasur.
Tak jarang juga mukena ikut menyusup, sejenak menginap di bawah naungan sang almari yang perkasa.
Kolong almariku, yang sesekali bila kakiku masuk ke sana rasanya seperti takut tak akan kembali. Takut ada tangan lain yang mencengkeram dari balik sana.
Kolong almariku, tetap saja berdebu.
Kolong almariku, tetaplah gelap.
Kolong almariku, tetaplah hanya sebuah ruang.
Ruang kecil di sudut kamarku.
Ruang terabaikan.
Itulah kolong almariku.

Gambar

Berjuta Rasanya


Untuk kita, yang terlalu malu walau sekedar menyapanya,telanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.
Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.
Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.
Semoga pemahaman baik itu datang. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederhana apa pun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik.
Selamat membaca cerita-cerita yang berjuta rasanya.

....<div class=

Tere Liye, Berjuta Rasanya

Itulah tulisan yang tersusun rapi di balik buku karya Tere Liye yang berjudul ‘Berjuta Rasanya’. Sebenarnya buku ini adalah buku terakhir yang aku ambil ketika berkunjung ke Gramedia Surakarta. Entah mengapa dengan sigapnya aku mengambil begitu saja buku ini,sekejap setelah membaca cuplikan isinya. Ya, mungkin karena kalimat-kalimat itu sama. Sama dengan apa yang aku rasakan. Tentang rasa yang sama sekali tidak spesial, tentang aku yang hanya dapat melihat salah satu ciptaan Tuhan dari kejauhan tanpa sekalipun bertegur sapa. Aku yang berkaca dan menyimpulkan bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan merasa sama sekali tak istimewa. Aku yang biasa saja. Yang jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

Disaat mulai membaca rangkaian kata dari buku ini, aku cukup menikmatinya. Hingga aku menemukan sebuah kisah dimana sudah jamak ditemui di kehidupan para remaja kebanyakan.
 
Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu.  Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya.
–Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku (Berjuta Rasanya)
Banyak sekali kisah mengejutkan yang bisa ditemui di buku ini. Tentang ukuran kecantikan seorang wanita, tentang pertemuan yang mahal harganya, tentang seorang pria yang bertahun-tahun hanya mengamati seorang wanita di dalam bus tanpa sekalipun berkenalan dan juga tentang dua insan yang saling menyukai namun sama sekali tak menampakkan pertanda cinta. Mereka yang pada akhirnya hanya dapat bersaling pandang padahal perasaan mereka dapat berbuat lebih.
 
Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.
-Bila Semua Wanita Cantik (Berjuta Rasanya)
 
“Jadi cinta itu seperti burung!”
“Ya, seperti burung ia akan membawamu terbang ke mana saja. Membuatmu bisa memandang seluruh isi dunia dengan suka cita. Bahkan, terkadang kau merasa seluruh dunia ini hanya milikmu seorang.”
–Pandangan Pertama Zalaiva (Berjuta Rasanya)
Meski kata ‘Cinta’ adalah satu perasaan. Namun saat kita merasakannya, sungguh berjuta rasanya!